MURSYID TQN PP SURYALAYA MASIH TETAP SYEIKH AHMAD SHOHIBUL WAFA TAJUL ARIFIN RA.

Banyak pertanyaan mengenai mursyid penerus TQN PP.Suryalaya. Bahkan beberapa pihak ada yang sudah tidak sabar untuk memberikan suatu pendapat dari dalil-dalil yang kurang dapat dipertanggungjawabkan mengenai hal ini. 
Mengenai fenomena yang belaku saat ini Pondok Pesantren Suryalaya sebagai wadah dari TQN Suryalaya sudah menjawabnya dengan surat edaran Nomor: 045.PPS.VII.2012.
TQN PP.Suryalaya sudah memiliki sistem manajemen yang berlangsung dengan baik saat ini. Sistem  manajemen tarekat yang tentunya memiliki beberapa karekteristik dan perbedaan satu sama lain di dunia ini. Di dunia Tarekat seorang Mursyid memiliki otoritas sendiri dalam mengubah/menambah sistem atau amaliyah yang akan diberlakukan di tarekat yang dipimpinnya. 
Syeikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin ra. (Pangersa Abah Anom) selaku mursyid TQN PP.Suryalaya sudah mengangkat lebih dari 60 orang para wakil talqin, mendirikan Yayasan Serba Bakti PP.Suryalaya dan sudah pula mengangkat pengemban amanah dalam kelangsungan syiar dan bimbingan TQN PP.Suryalaya. Lembaga-lembaga pendidikan pun sudah dibentuk sampai tingkat Sekolah Tinggi/Universitas.
Tugas ikhwan wal akhwat TQN PP.Suryalaya saat ini adalah meningkatkan amaliyah  serta menjalankan amanah yang sudah diberikan Pangersa Abah khususnya pula TANBIH TQN PP.Suryalaya. Tetaplah menjaga persatuan dan berpatokan kepada info dari PP.Suryalaya pusat sebagai wadah dari TQN PP.Suryalaya.
 
Berikut kami sampaikan surat edaran Nomor: 045.PPS.VII.2012 :
 
 
-TENTANG
HIMBAUAN DAN AJAKAN-

Bismillahirrahmaanirrahiim 
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dalam suasana bulan suci Ramadhan 1433 H dan menjelang Idul Fitri 1 Syawal 1433 H, kami Pengemban Amanah Sesepuh Pondok Pesantren Suryalaya dan segenap Keluarga Syaikh KH. A. Shohibulwafa Tajul Arifin ra. mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa semoga kita semua senantiasa dalam ampunan Allah swt. Serta menjelang Idul Fitri 1 Syawal 1433 H Pengemban Amanah Sesepuh Pondok Pesantren Suryalaya dan segenap Keluarga Syaikh KH. A. Shohibulwafa Tajul Arifin ra. mengucapkan “Minal ‘Aidin Walfaizin” mohon maaf lahir dan batin.

Menyikapi situasi yang berkembang dikalangan ikhwan/akhwat TQN Pondok Pesantren Suryalaya yang berkaitan dengan fenomena/issue tentang Mursyid sepeninggal Pangersa Abah Anom maka dengan ini kami permaklumkan dengan hormat kepada seluruh Wakil Talqin TQN Pondok Pesantren Suryalaya, Pengurus Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya (Korwil, Perwakilan dan Pembantu Perwakilan) dan seluruh Ikhwan/Akhwat TQN Pondok Pesantren Suryalaya, bahwa :

1. Pengemban Amanah Sesepuh Pondok Pesantren Suryalaya dan Keluarga Besar Pondok Pesantren Suryalaya secara tegas tidak mengakui pengakuan seseorang sebagai MURSYID Tareqat Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya sepeninggal Pangersa Abah Anom karena sepanjang yang kami ketahui dari telaah dokumen ( Amanat, Maklumat Pangersa Abah Anom selaku Mursyid Tareqat Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya ) sampai saat ini tidak ditemukan adanya bukti-bukti otentik adanya pelimpahan kemursyidan dari beliau kepada siapapun dan tidak ada penambahan Wakil Talqin baru sepeninggal beliau.

2. Selanjutnya apabila ada pengakuan sepihak dari seseorang yang mengaku sebagai Mursyid Tareqat Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya sepeninggal Pangersa Abah Anom selaku Mursyid Tareqat Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya maka kami Pengemban Amanah Sesepuh Pondok Pesantren Suryalaya dan Keluarga Besar Pondok Pesantren Suryalaya tidak turut campur pada urusan tersebut dan segala akibat yang timbul karenanya menjadi tanggungjawab yang bersangkutan. Sepeninggal Pangersa Abah Anom Selaku Mursyid Tareqat Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya amaliah Tareqat Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya yang selama ini kita amalkan, masih tetap berkembang di masyarakat tetap berjalan dan tidak terdapat perubahan artinya masih tetap sejalan dengan TANBIH wasiat Pangersa Guru Almarhum Syaikh H. Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad ra., Uqudul Jumaan, Mifathus Sudur, serta Maklumat dan Amanat Sesepuh Pondok Pesantren Suryalaya Syaikh H. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin ra. 
Ikhwan/akhwat Tareqat Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya masih terus berkembang terbukti dengan masih banyaknya para tamu yang datang ke Pondok Pesantren Suryalaya meminta Talqin dzikir dan mengamalkan amaliah Tareqat Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya, terutama dalam waktu Pengajian Manaqiban tiap tanggal 11 Hijriyah.

3.Bagi daerah–daerah yang Wakil Talqinnya atau Pembina di daerahnya telah meninggal dunia, Pembinaan kepada Ikhwan/akhwat masih tetap berjalan oleh Para Pembina, Pengurus Yayasan, Sesepuh Manaqib dan Khataman, Mubaligh/Mubalighah dari daerah lain yang terjangkau. Oleh karena itu para ikhwan/akhwat Tareqat Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya hendaklah senantiasa tetap tenang, istiqomah melaksanakan amaliah Tareqat Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya baik harian, mingguan, bulanan bahkan tahunan. Apabila terjadi penyimpangan sepeninggal Pangersa Abah Anom maka Abah tidak bertanggung jawab. sebagaimana ditegaskan dalam Maklumat Pangersa Abah Nomor : 03.PPS.V.2002 butir 5 yang berbunyi “ Agar tetap menjaga diri tidak berbuat yang bertentangan dengan petunjuk, pedoman, bimbingan dan pengajaran yang telah ditetapkan dalam amalan TQN Pondok Pesantren Suryalaya, baik dilakukan secara sendiri-sendiri maupun secara organisasi, bagi mereka yang melakukan penyimpangan atau perekayasaan terhadapnya maka Abah tidak ikut bertanggungjawab dan segala akibat yang ditimbulkan karenanya menjadi tanggungjawab orang yang bersangkutan”

4. Demikian himbauan ini kami sampaikan, semoga dapat diindahkan sebagaimana mestinya.

Selanjutnya kita berdo’a semoga kita senantiasa dapat melaksanakan amaliah Tareqat Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya secara istiqomah, semoga kita diakui menjadi muridnya dan mendapat limpahan barokah dari Almukarom Pangersa Abah Anom serta Almukarom Pangersa Abah Sepuh serta karomah dari Tuan Syaikh Abdul Qodir Al-Jaelani qs. serta Syafa’at dari junjungan kita Nabiyullah Muhammad Saw.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Suryalaya, 14 Ramadhan 1433 H 
3 Agustus 2012 M

Pengemban Amanah 
Sesepuh Pondok Pesantren Suryalaya 
K.H. Zaenal Abidin Anwar.

Read more: http://www.dokumenpemudatqn.com/2012/11/mursyid-tqn-pp-suryalaya-masih-tetap.html#ixzz2DhEPy6bK

keyakinan akan mursyid pembimbing

Gambardari mana kita berasal….?

untuk apa kita dilahirkan…?

ke mana kita akan pulang kembali ?

belajar merupakan suatu kewajiban… ilmu mengenai kehidupan sehari-hari, berdagang, fisika, biologi, management dan aspek-aspek kehidupan sosial serta cara kita beribadah yakni ilmu fiqih semuanya dapat kita pelajari dari pengalaman maupun buku-buku ataupun dunia maya saat ini.

namun untuk urusan pembinaan rohani, substansi yang halus dalam tubuh tidaklah bisa dipelajari tanpa bimbingan seorang guru. Guru yang memang sebenar-benar guru yang dalam istilah tarekat sufi disebut Mursyid.

wajib bagi kaum muslimin yang sudah baligh dan dewasa untuk menuntut ilmu di tarekat-tarekat mu’thabaroh yang silsilahnya bersambung sampai kepada para tabiit tabiin, tabiin, para sahabat ra. dan kepada Baginda Rasulullah S.A.W.

mengapa demikian?

1. akal pikiran yang dianugrahi Alloh SWT. kepada manusia tidak akan sanggup untuk mengenal Allah SWT. Sang Maha Pencipta dengan sesungguhnya;

2. manusia tidak akan bisa mengenal Sang PenciptaNya sebelum mengenal dirinya sendiri (man arofa nafsa fakod arofa robba)

3. yang perlu dikenal oleh manusia tentang dirinya bukanlah hanya fisik atau jasmaninya, namun subtansi halus dalam dirinya, sebagaimana Sabda Nabi Muhammad S.A.W. : di dalam diri manusia ada sepotong daging yang jika ia baik maka baik pulalah dirinya, yakni qalbu (dalam bahasa Indonesia disebut hati). Hati yang dimaksud bukan liver, tetapi qalbu atau dalam bahasa Inggris Heart (simbolnya jantung). Jantung di sini merupakan wadah atau tempat dari substansi halus dalam diri manusia (latifah rabbaniyah).

4. hanya guru mursyid yang dapat membimbing ruhani manusia dalam mengenal dirinya dan Tuhannya

5. mengenal sang Pencipta agar timbul suatu rasa dalam diri manusia itu selalu diawasi oleh Tuhannya , selalu merasa bersamaNya, dan itu tidak bisa hanya di fikiran, yang merasakan itu qalbu.

Setelah bertemu dengan guru Mursyid yang kamil mukammil, tentunya seorang muslim yang belajar berbait (mengucapkan janji setia) dan di-talqin (ditanamkan bibit kalimah taqwa oleh Mursyidnya).

Dalam beberapa tarekat seorang mursyid biasanya mengangkat pembantu/wakil guna melaksanakan prosesi baiat/talqin tersebut. Namun hakikatnya tetaplah mursyid itu sendiri yang mentalqin murid/pesuluk yang baru masuk ke dalam tarekat.

Perjalanan tarekat ke depannya ada beberapa guru mursyid yang sudah meninggal, namun tarekat tersebut masih eksist karena adanya peran dari wakil-wakil talqin mursyid tersebut. Hal tersebut sudah lumrah dalam suatu tarekat, dan sudah banyak yang terjadi dalam beberapa kasus di beberapa tarekat sejak lebih seribu tahun yang lalu.

Seorang wali mursyid yang sudah wafat dengan izin Allah S.W.T. tentu tetap dapat membimbing murid-muridnya, dan murid-muridnya pun tidak perlu ragu dan wajib untuk yakin. Wali Mursyid tetaplah hidup hanya berpindah saja dari jasadnya ke sisi Allah SWT. Sebagai mana keterangan dari beberapa kitab berikut:

Keterangan dari Kitab :
1. Jaami’al al-Ushuul Fi al-Auliyaa’ hal.7
Ketahuilah bahwa setiap wali itu memiliki keistimewaan dan kemampuan berbuat sesuatu saat masih hidup dan sesudah mati, misalnya kemampuan yang dimiliki oleh Syaikh Muhammad Baha’uddin, guru thariqat Naqsyabandiyah dalam mengajarkan hakikat dan larut dalam sifat2 Ketuhanan, juga kemampuan berbuat dan memberikan pertolongan yang dimiliki oleh Syaikh Abdul Qodir ALJaelani qs. serta kemampuan menyampaikan ilmu dan wirid yang dimiliki oleh Syaikh Abu AlHasan al-Syadzili… Syaikh Ali al-Qurasyi mengatakan,”Saya melihat empat orang Sayikh beraktivitas beraktivitas di dalam kubur mereka seperti aktivitas orang hidup yakni: Syaikh Abdul Qodir ALJaelani qs., Syaikh Ma’ruf Al-Karqhi,Syaikh Aqil al-Munji dan Syaikh Hayat bin Qais.
2. Tanwirul Qulub, hal.520. : hazaa wafiimaa zakarnaahu dalalatun qowiyyatun ‘ala anna lilauliyaa i tashorruffan ba’dal mauti.
(Keterangan ini dan apa yang telah kami sebutkan adalah bukti yang kuat bahwa para wali itu memiliki kemampuan beraktivitas -seiizin Alloh- setelah mati/wafat)

Demikianlah seorang murid sufi semestinya tetap memegang adab. Tidak bertanya dan mempersoalkan sesuatu yang bukan wilayahnya. Tugas seorang murid hanyalah mengamalkan dengan sungguh-sungguh janji setianya dan amaliyah serta amanah yang diberikan guru mursyid,

Sebab tarekat mu’thabaroh itu adalah milik Alloh dan rasulullah s.a.w., ada rahasia di balik rahasia yang tidak mudah dan sembarang orang untuk dianugrahi mengetahuinya.

Diam itu emas jika disertai selalu dengan dzikirullah…

wallohua’alam…

SELAMAT MILAD KE-107 PONDOK PESANTREN SURYALAYA

Keberadaan TQN (Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah) Suryalaya tidak bisa dipisahkan dengan Pondok Pesantren Suryalaya sebagai wadahnya.
Alhamdulillah pada hari ini Pondok Pesantren Suryalaya sudah menginjak ke usia ke-107. Didirikan oleh Syeikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad Ra. (Abah Sepuh) pada tanggal 05 September 1905.

(Foto: Abah Sepuh dan Abah Anom)

Dikembang secara modern dan luas sampai ke mancanegara oleh Syeikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin Ra. (Abah Anom Ra.). Namun di hari ini juga kita mengenang 1 tahun (khoul) Pangersa Abah Anom ra. Beliau wafat pada Tgl.05 September 2011 setahun yang lalu bertepatan dengan milad PP.Suryalaya yang ke-106.

Tentu banyak tantangan dan pekerjaan ke depan untuk tetap eksis dan menjalankan amanah-amanah yang sudah diberikan oleh Abah Sepuh ra. selaku pendiri dan Abah Anom ra. Beliau berdua sudah menata semuanya dengan keringat dan serta upaya hanya demi umat Islam umumnya dan ikhwan/akhwat TQN Suryalaya khususnya. Pada maklumatnya beberapa tahun yang lalu Pangersa Abah ra menekankan supaya para ikhwan/akhwat TQN Suryalaya selalu mengamalkan TANBIH dan selalu berpegang pada tali Allah (wa’tashimuu bihablillahi) dalam lingkungan TQN Suryalaya, kehidupan sehari-hari maupun bermasyarakat serta bernegara.

Sebagaimana maklumat terakhir Pangersa Abah ra. beberapa hari menjelang wafatnya beliau menyarankan agar di Milad PP.Suryalaya semua ikhwan/akhwat TQN Suryalaya memperbanyak TAHLILAN (ditujukan kepada Pangersa Abah Sepuh dan juga Pangersa Abah Anom).
Akhir kata kami ucapakan :

SELAMAT MILAD YANG KE-107 PP.SURYALAYA
SEMOGA JAYA SELALU DALAM MENEGAKKAN KALIMAH
LAA ILAHA ILLALLAH
SEMOGA KITA SEMUA IKHWAN/AKHWAT TQN SURYALAYA
SELALU DALAM PERSAUDARAAN DAN PERSATUAN SERTA KASIH SAYANG DI BAWAH BIMBANGAN PANGERSA ABAH ANOM RA.
AAMIIN
ILAHADLROTI  SYEIK ABDULLAH MUBAROK BIN NUR MUHAMMAD WAHADLROTI SYEIKHUNAL MUKARROM SYEKH AHMAD SHOHIBUL WAFA TAJUL ARIFIN RA. ALFATIHAH.
 
Selamat Milad ke-107 Pondok Pesantren Suryalaya.

Links : http://www.dokumenpemudatqn.com/2012/09/selamat-milad-ke-107-pondok-pesantren.html

Sejarah Perbaikan Ka’bah

Ka’bah di Mekkah.

 

Sepanjang sejarah, Ka’bah telah mengalami beberapa kejadian yang menyebabkan rusaknya bangunan tersebut, adakalanya disebabkan oleh peristiwa alam dan adakalanya karena ulah tangan-tangan manusia.
Di zaman jahiliyah bahan bangunan Ka’bah adalah batu-batu besar yang tidak ada tanah liatnya. Suatu ketika Ka’bah mengalami kerusakan karena banjir, lalu orang-orang Quraisy membangunnya kembali dengan kayu-kayu yang mereka ambil dari bekas-bekas perahu orang romawi yang tenggelam di laut merah, dan mereka bangun dengan batu-batu di lembah gunung.
Akan tetapi mereka berselisih tentang siapa yang akan meletakkan Hajar Aswad di Ka’bah, lalu mereka sepakat bahwa yang pertama kali masuk masjidlah yang akan meletakkannya.
Nabi yang waktu itu baru menginjak dewasa adalah orang yang pertama kali masuk Masjidil Haram akhirnya Nabi Muhammad yang meletakkan Hajar Aswad itu.
Di zaman Yazid bin Muawiyah ketika Abdullah bin Zubair berlindung di Ka’bah, dia memerintahkan Hajjaj bin Yusuf untuk melempari Ka’bah dengan panah- panah berapi, akhimya sebagian bangunan Ka’bah terbakar. Kerusakan itu kemudian di perbaiki oleh Abdil Malik. Sedang yang meletakkan Hajar Aswad pada waktu itu adalah Imam Ali bin Husain Zaenal Abidin.
Di abad ke-3 hijriyah, sekelompok orang Syiah Gholat (yang menuhankan Imam Ali) telah mengambil Hajar Aswad dan membawanya ke Kota Kufah (Iraq) lalu di kembalikan oleh Imam Mahdi ke tempatnya.
Ka’bah di Zaman Nabi Ibrahim AS tingginya mencapai 4,43 m dan panjangnya 14,79 m sedang lebarnya 10,85 m. Pada waktu itu Ka’bah tidak mempunyai atap, lalu diberi oleh orang-orang Quraisy sepanjang 4,43 m, akhirnya tingginya menjadi 8,86 m.
Orang-orang Quraisy meletakkan dasar (fondasi) bangunan Ka’bah dari dalam lalu meletakkan batu di atasnya dan mereka bangun hijr dan orang-orang tawaf mengelilingi Ka’bah dari hijr tersebut sampai kemudian Yazid merusaknya karena ingin membunuh Ibnu Zubair.
Setelah itu, Ka’bah direnovasi kembali seperti semula dan tingginya di tambah lagi 4,43 m. Maka tinggi Ka’bah menjadi ±13,31 m dan mereka memberinya dua pintu satu pintu di sebelah timur dan yang lain di sebalah barat (sampai ke permukaan tanah).
Setelah Abdullah bin Zubair meninggal dunia, Abdul Malik bin Marwan memerintah Hajjaj bin Yusuf untuk mengembalikan Hajar Aswad yang telah jatuh. Selain itu, bangunan Ka’bah di kembalikan seperti sediakala yang di bangun oleh orang-orang Quraisy. Kemudian Hajjaj mengurangi panang bangunan dan menutup pintu yang ada di punggung Ka’bah dan menghilangkan pintu yang pertama seperti halnya sekarang

Cinta seberat setengah dzarroh

Nabi Isa as. pernah melewati pemuda yang sedang menyiram kebun. Tiba-tiba ia minta kepada Nabi Isa as.,”Mintakan aku kepada Tuhanmu Anugrah rasa cinta kepadaNya sekalipun seberat semut dan dzarroh.”
Nabi Isa as. menjawab,”Engkau tidak akan kuasa menerima seberat dzarroh pun.”
Lalu pemuda itu berkata,”Kalau begitu setengah dzarroh saja.”
Kemudian Nabi Isa as. berdoa,”Ya Tuhanku, berikan ia anugrah cinta seberat setengah dzarroh.”
Setelah itu Nabi Isa as. pergi dan beberapa waktu berselang beliau kembali ke tempat pemuda tersebut,Nabi Isa bertanya  tentang keberadaan pemuda itu dan orang-orang menjawab,”Sekarang dia gila dan pergi ke gunung.”
Nabi Isa as berdoa kepada Allah SWT. agar diperlihatkan keadaan sang pemuda. Dengan izin Allah SWT beliau melihat pemuda itu di antara bebatuan gunung, berdiri di atas batu paling besar sambil membelalakkan matanya. Nabi Isa as memberikan salam dan ia tidak menjawab.
“Aku adalah Isa,”Kata Isa as.
Akhirnya Allah SWT. berfirman kepada Nabi Isa as,”Bagaimana mungkin ia mendengar pembicaraan manusia sementara dalam hatinya ada rasa cinta kepada-Ku sekalipun seberat setengah dzarroh (atom)! Demi Keagungan dan Kebesaran-Ku, andai engkau memenggal dengan gergaji dia tidak akan merasakan hal tersebut.”
 
Ditulis oleh Dokumen Pemuda TQN Suryalaya 
Sumber : Terjemahan Kitab Mukasyafatul Qulub 
               karya Imam Alghazali
 

Injil kuno yang menyebutkan Nama Nabi Muhammad saw.

Gambar

Injil kuno yang diyakini berusia lebih dari 1500 tahun dan telah membuat heboh. Yang membuat gempar, Injil kuno tersebut ternyata memprediksi akan kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai penerus risalah Isa (Yesus) di bumi.
Sebagian orang memprediksi injil tersebut adalah Injil Barnabas. Menurut Mailonline, Injil yang tersimpan di Turki itu ditulis tangan dengan tinta emas menggunakan bahasa Aramik. Inilah bahasa yang dipercayai digunakan Yesus sehari-hari. Dan di dalam injil ini dijelaskan ajaran asli Yesus serta prediksi kedatangan penerus kenabian setelah Yesus. Alkitab kuno ini sekarang di simpan di Museum Etnografi di Ankara, Turki.
Dalam Injil Barnabas memang diungkapkan tentang akan datangnya Rasul bernama Muhammad SAW, setelah Nabi Isa. Berikut ini isi Injil Barnabas yang menyebut tentang Nabi Muhammad:
Bab 39 Barnabas : ”Terpujilah nama-Mu yang kudus, ya Allah Tuhan kita… Tiada Tuhan Selain Allah dan dan Muhammad SAW adalah utusan-Nya”.
Masih pada bab 39 yang mengisahkan tentang Nabi Adam, nama Nabi Muhammad SAW juga disebut dalam dialog antara Nabi Adam dengan Tuhan. ”…Apa arti kata-kata, Muhammad utusan Allah, apakah ada manusia sebelum aku?”
Bab 41 Barnabas : “Atas perintah Allah, Mikael mengusir Adam dan Hawa dari surga, kemudian Adam keluar dan berbalik melihat tulisan pada pintu surga ‘Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah…”
Bab 44 Barnabas : Pada bab ini Yesus atau Nabi Isa menyebut nama Nabi Muhammad. ”Oh, Muhammad Tuhan bersamamu…”
Bab 97 : Yesus menjawab, “Nama Mesias sangat mengagumkan, karena Allah sendiri yang memberinya nama, ketika menciptakan jiwanya dan menempatkannya di dalam kemuliaan surgawi. Allah berkata: ‘Tunggu Muhammad; karena kamu Aku akan menciptakan firdaus, dunia, dan banyak makhluk… Siapa pun yang memberkatimu akan diberkati, dan barangsiapa mengutukmuu akan dikutuk..”
Bab 112 : Dalam bab ini Nabi Isa (Yesus) bercerita kepada Barnabas bahwa dirinya akan dibunuh. Namun, kata Nabi Isa, Allah aka membawanya naik dari bumi. Sedangkan orang yang dibunuh sebenarnya adalah seorang pengkhianat yang wajahnya diubah seperti Nabi Isa. Dan orang-orang akan percaya bahwa yang disalib itu adalah Nabi Isa. ”Tetapi Muhammad SAW akan datang… Rasul Allah yang suci,” kata Nabi Isa. Nama Nabi Muhammad SAW juga disebut pada Bab 136, 163, dan 220. Isi Injil Barnabas di atas dikutip dari barnabas.net.
Menurut Laman Al-Arabiya, meskipun spekulasi tentang kitab kuno yang diduga sebagai Injil Barnabas itu meramalkan kedatangan Islam, namun sejauh ini tidak ada bukti yang menegaskan hipotesis tersebut.
Walau Injil Barnabas “mengakui” kedatangan Islam dan Nabi Muhammad SAW, namun skeptisisme tetap muncul karena kontradiksinya dengan Alquran. “Sebab, sebagian besar studi tentang kitab ini menyatakan Injil Barnabas hanya kembali ke 500 tahun yang lalu. Sementara, Alquran telah ada sejak 1400 tahun silam,” demikian tulis Al-Arabiya, Senin (27/2).
Adanya kontradiksi inilah yang menjadi alasan utama mengapa para sarjana Arab mengabaikan terjemahan bahasa Arab Injil tersebut, yang diterbitkan 100 tahun lalu. Sebagaimana diulas secara rinci oleh penulis dan pemikir Mesir, Abbas Mahmoud Al-Akkad.
Dalam sebuah analisis yang ditulisnya pada 26 Oktober 1959 di surat kabar Al-Akhbar, Akkad mengatakan deskripsi neraka dalam Injil Barnabas didasarkan pada informasi yang relatif baru yang tidak tersedia pada saat di mana teks itu seharusnya ditulis. “Sejumlah deskripsi yang tertulis dalam Injil itu merupakan kutipan orang-orang Eropa dari sumber-sumber Arab,” ungkapnya.
Seorang pendeta Protestan Ihsan Ozbek mengatakan Injil itu berasal dari abad ke-5 atau ke-6. Sementara Barnabas, yang merupakan pemeluk pertama Kristen hidup pada abad pertama.
“Salinan Injil di Ankara mungkin telah ditulis ulang oleh salah seorang pengikut Barnabas,” kata dia. Sebab, lanjutnya, ada jeda 500 tahun antara Barnabas dan penulisan salinan Inkjil. “Umat Islam mungkin akan kecewa bahwa Injil ini tidak ada hubungannya dengan injil Barnabas,” ujarnya.
Sementara Profesor Omer Faruk menilai Injil kuno itu perlu ditelusuri lebih lanjut guna memastikan Injil itu dibuat oleh Barnabas atau pengikutnya.

BERBAGI KEBAHAGIAAN PADA SESAMA DI HARI RAYA

Suatu ketika di saat hari Raya Idul Fitri, Rasulullah saw.  berjalan-jalan untuk mendatangi rumah-rumah kaum muslimin. Seketika langkah beliau terhenti oleh suara tangis gadis kecil di tepi jalan. Beliau pun langsung menghampiri sang gadis kemudian menyapanya dengan lembutnya,“Mengapa engkau menangis wahai anakku?”
Gadis kecil tersebut tak bergeming ke arah suara yang menyapanya. Ia hanya menyahut dengan lirih,“Ayahku mati syahid dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah,” tutur gadis kecil itu menjawab tanya Rasulullah tentang Ayahnya.Seketika, Rasulullah mendekap gadis kecil itu penuh rasa haru. “Maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?”Gadis kecil itu terperangah. Sadarlah ia bahwa ternyata lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya, tak lain adalah Muhammad Rasulullah SAW, Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan anak yatim. Siapakah yang tak ingin berayahkan lelaki paling mulia, dan beribu seorang Ummul Mukminin?

Demikianlah Rasulullah membuat seorang gadis kecil yang bersedih di hari raya kembali tersenyum. Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke rumahnya untuk diberikan pakaian bagus, terbasuhlah sudah airmata.

Shalawat dan salam baginya, Rasulullah yang penuh cinta. Rasulullah tak hanya berbaju bagus saat berlebaran, akan tetapi juga mengajak seorang anak yatim ikut berbaju bagus. Sehingga nampak tak berbeda dengan Hasan dan Husain, kedua cucunya. Rasulullah menjadikan Hari Raya Idul Fitri sebagai moment istimewa bagi semua orang.